Gunungkidul, 14 Agustus 2026 – Rangkaian kegiatan lapangan Departemen Tanah berlanjut ke salah satu warisan geologi paling fenomenal di Yogyakarta. Pada Jumat, 14 Agustus 2026, jajaran dosen Departemen Tanah melakukan kunjungan ekskursi ke Geosite Sungai Purba Sadeng di kawasan Gunungkidul. Kunjungan ini difokuskan untuk mengamati secara langsung bentang alam karst serta jejak sejarah geologi aliran sungai masa purba yang kini menjadi daratan kering yang unik.
Kunjungan studi lapangan ini dipandu langsung oleh Ketua Departemen Tanah, Dr. Makruf Nurudin, S.P., M.P. Selama menyusuri alur lembah Sadeng, Dr. Makruf menjelaskan secara detail proses tektonik dan pelarutan batu gamping (karstifikasi) yang menyebabkan terangkatnya Jawa bagian selatan jutaan tahun lalu, sehingga mengubah muara Sungai Bengawan Solo Purba yang semula mengalir ke Samudra Hindia menjadi lembah daratan. Beliau juga memaparkan karakteristik pembentukan tanah di atas formasi karst, dinamika erosi, serta retensi air pada horizon tanah berbatu gamping tersebut.
Para peserta ekskursi diajak untuk menelaah bagaimana kondisi solum tanah yang tipis di kawasan Lembah Sadeng memengaruhi pola vegetasi dan adaptasi pemanfaatan lahan oleh masyarakat setempat. Diskusi interaktif antardosen mewarnai sepanjang jalur pengamatan, menghubungkan aspek pedologi, geomorfologi, dan konservasi tanah di kawasan terangkat (uplifted karst) tersebut.
Eksplorasi di Geosite Sungai Purba Sadeng ini menjadi langkah nyata Departemen Tanah dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pemahaman komprehensif atas proses geomorfologi dan bentang alam karst mendukung SDG 15: Ekosistem Darat melalui upaya konservasi warisan geologi dan pencegahan degradasi lahan marjinal. Selain itu, kajian keterbatasan sumber daya air di kawasan lembah purba ini relevan dengan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak serta SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, khususnya dalam merumuskan strategi adaptasi pengelolaan tanah dan air berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah karst.
Penulis: Tim Media Departemen Tanah, Faperta UGM
Editor: Riska Ayu Purnamasari