Yogyakarta, 24 Mei 2026 — Memahami morfologi tanah tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas. Mahasiswa Program Sarjana Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, melaksanakan Praktikum Lapangan Morfologi Tanah sebagai bagian dari mata kuliah Morfologi dan Klasifikasi Tanah, dengan tujuan agar mahasiswa dapat memahami morfologi tanah secara langsung sekaligus belajar mengklasifikasikan tanah berdasarkan ciri-cirinya. Di lapangan, mahasiswa dapat mengamati sendiri bagaimana setiap horizon tanah memiliki karakteristik fisik, kimia, maupun biologi yang berbeda-beda, sehingga materi yang dipelajari di kelas menjadi lebih mudah dipahami karena dapat langsung dikaitkan dengan kondisi nyata di lapangan.
Praktikum lapangan ini dilaksanakan sebanyak dua kali dalam satu semester, yaitu pada 4 April dan 24 Mei 2026, dengan lokasi yang berpindah dari satu stopsite ke stopsite lainnya di wilayah Gunungkidul serta Godean–Kulon Progo.
Kegiatan melibatkan dosen pengampu, asisten praktikum, serta mahasiswa peserta mata kuliah Praktikum Morfologi Tanah. Rangkaian kegiatan biasanya diawali dengan briefing dan monitoring di Fakultas Pertanian UGM sebelum seluruh peserta berangkat menuju lokasi menggunakan bus.
Setibanya di setiap stopsite, dosen mengarahkan mahasiswa menuju titik pengamatan untuk mengamati kondisi sekitar, termasuk bentuk relief dengan bantuan Google Maps. Setelah itu, dosen menjelaskan profil tanah yang diamati. Bagian tanah yang tersingkap biasanya dikerik terlebih dahulu agar warna aslinya terlihat lebih jelas, sehingga setiap horizon dapat diamati dengan lebih baik. Selama kegiatan, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mengamati secara langsung, berdiskusi, dan bertanya kepada dosen. Pada beberapa lokasi, mahasiswa turut mengambil sampel tanah untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium.
Salah satu stopsite yang diamati adalah tanah sulfat masam di ekosistem mangrove, Kulon Progo. Pada lokasi ini, dilakukan percobaan dengan meneteskan larutan hidrogen peroksida (H₂O₂) ke tanah pada berbagai kedalaman. Hasilnya, jumlah buih yang muncul berbeda pada setiap kedalaman tanah, semakin dalam lapisannya, semakin banyak buih yang dihasilkan. Reaksi ini terjadi karena H₂O₂ berperan sebagai oksidator kuat yang mengoksidasi mineral pirit (FeS₂), sehingga menghasilkan asam sulfat dalam waktu yang relatif singkat. Pengamatan ini memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat langsung reaksi kimia yang sebelumnya hanya dipelajari melalui teori di kelas.
Naysha, mahasiswi Ilmu Tanah angkatan 2024, membagikan kesannya terhadap kegiatan ini: “Praktikum lapangan ini memberikan pengalaman belajar yang sangat berkesan karena saya dapat melihat dan mengamati langsung berbagai karakteristik tanah di lapangan, sehingga materi yang dipelajari di kelas menjadi lebih mudah dipahami. Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan dan praktikum berikutnya dapat berjalan dengan lancar, sehingga semakin banyak mahasiswa yang memperoleh pengalaman belajar yang menarik serta bermanfaat.” Praktikum lapangan seperti ini diharapkan terus menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa Ilmu Tanah UGM, sehingga pemahaman teori dapat senantiasa dihubungkan dengan kondisi nyata di lapangan.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) diantaranya, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui pembelajaran berbasis pengalaman langsung yang memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap morfologi dan klasifikasi tanah. SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, melalui pemahaman proses kimiawi tanah seperti oksidasi pirit yang berkaitan dengan dinamika lingkungan pesisir dan mangrove. SDG 14: Ekosistem Lautan, melalui pengamatan langsung karakteristik tanah sulfat masam pada ekosistem mangrove sebagai bagian dari wilayah pesisir. SDG 15: Ekosistem Daratan, melalui observasi profil tanah di berbagai bentang alam yang mendukung pemahaman pengelolaan sumber daya lahan secara lestari.
Penulis: Rina Damayanti
Editor: Riska Ayu Purnamasari