Surakarta, 2026 — Dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional dan efisiensi pengelolaan sumber daya hutan, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dina Purnamaningtyas, melaksanakan pengkajian mendalam terkait kondisi dan kualitas tanah pada Agroforestri Tebu Mandiri (ATM) di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta, khususnya Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tangen. Kegiatan yang berlangsung sejak Februari hingga Mei 2026 ini berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Riska Ayu Purnamasari, Ph.D.
Program Agroforestri Tebu Mandiri (ATM) merupakan strategi pemanfaatan Lahan Dibawah Tegakan (PLDT) yang dikembangkan oleh Perum Perhutani KPH Surakarta bekerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Melalui skema ini, kawasan hutan dimanfaatkan secara produktif tanpa mengabaikan fungsi utamanya. Dari hasil pengamatan lapangan dan uji laboratorium, tanah di wilayah BKPH Tangen didominasi oleh jenis Latosol. Berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan, kawasan RPH Tangen memperoleh total skor 18 yang masuk dalam kategori Sangat Sesuai (S1) untuk budidaya tanaman tebu (Saccharum officinarum L.). Faktor topografi yang datar (kelerengan <8%), pH tanah yang netral hingga agak basa, serta tekstur liat debuan menjadi pendukung utama potensi pertumbuhan tebu di lokasi tersebut.
Meski memiliki tingkat kesesuaian lahan yang tinggi, studi ini menemukan sejumlah tantangan kelesatrian tanah. Praktik monokultur tebu sepanjang tahun yang dikombinasikan dengan sifat alami tanah Latosol yang rentan terhadap pencucian unsur hara (leaching) akibat curah hujan tinggi menyebabkan penurunan kesuburan tanah secara bertahap. Selain itu, kebiasaan masyarakat setempat yang sering membakar sersah tebu pascapanen serta penggunaan Herbisida Kimia secara terus-menerus berisiko mengganggu struktur fisika-kimia tanah dan memicu bahaya kebakaran hutan jika tidak dikontrol dengan ketat.
Sebagai bentuk solusi dan rekomendasi teknis, analisis ini menekankan pentingnya penerapan prinsip pemupukan berimbang 4R (Right time, Right rate, Right source, Right place). Berdasarkan kalkulasi kebutuhan hara makro tebu, rekomendasi pemupukan ideal yang disarankan mencakup penggunaan NPK 15-15-15 sebanyak 666 kg/ha yang dikombinasikan dengan pupuk Urea (46% N) sebanyak 217 kg/ha yang diaplikasikan secara bertahap pada awal pindah tanam dan dua bulan setelahnya. Lebih dari itu, penambahan bahan organik seperti kompos atau penggunaan media tanam berbasis cocopeat dan perbaikan manajemen pembukaan lahan tanpa bakar sangat direkomendasikan untuk menjaga stabilitas agregat tanah serta kandungan C-Organik jangka panjang.
Pelaksanaan kegiatan magang dan pengkajian tata kelola tanah ini secara langsung mendukung perwujudan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs). Praktik pemupukan presisi serta pengayaan bahan organik di area agroforestri sejalan dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 15: Ekosistem Daratan dan civitas akademika UGM merupakan wujud nyata penerapan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan demi mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar hutan secara inklusif.
Penulis: Riska Ayu Purnamasari
Editor: Imas Masithoh Devangsari