Boyolali, Feb-Mei 2026 – Dalam inisiatif penting untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan, lima mahasiswa dari program Ilmu Tanah — Astika, Rakyan, Alifta, Salma, dan Septya — melaksanakan program Merdeka Belajar Kampus Berdampak (MBKB) selama tiga bulan di Aliansi Petani Padi dan Palawija Organik (APPOLI) di Boyolali, Jawa Tengah. Program ini, yang berlangsung dari Februari hingga Mei 2026, bertujuan untuk memberdayakan mahasiswa melalui pengalaman langsung dalam pertanian berkelanjutan.
Di bawah bimbingan Pak Siswadi Endro Subroto, ketua APPOLI sebagai pembimbing lapangan dan Margi Asih Maimunah, Ph.D., Dosen Pembimbing Lapangan, para mahasiswa terlibat erat dengan kegiatan petani lokal sambil belajar secara langsung manajemen pertanian organik. Kolaborasi ini tidak hanya memberikan pengetahuan praktis kepada mahasiswa tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab bersama terhadap praktik pertanian yang berkelanjutan.
Kurikulum yang diajarkan mencakup berbagai mata kuliah seperti Teknologi Pemupukan dan Pengomposan, Kepemimpinan, serta Analisis Tanah dan Tanaman. Mata kuliah ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam pertanian modern, terutama dalam konteks perubahan iklim dan serangan hama.
Berpartisipasi dalam kegiatan budidaya padi bersama petani lokal memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dalam praktik pertanian. Keterlibatan ini sangat penting untuk memahami kompleksitas keragaman tanaman dan pentingnya menjaga keragaman tanaman untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan lingkungan.
Selain itu, mahasiswa juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan penelitian bersama dosen mereka. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya pengalaman akademis mereka tetapi juga berkontribusi pada upaya yang sedang berlangsung untuk meningkatkan praktik pertanian di daerah tersebut. Dengan terlibat dalam penelitian, mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan teoritis mereka pada tantangan dunia nyata, sehingga meningkatkan perjalanan pendidikan mereka.
Selama pelaksanaan program MBKB, mahasiswa menghadapi kenyataan yang dihadapi oleh petani, termasuk kekhawatiran terkait pola cuaca yang tidak menentu dan serangan hama. Paparan ini sangat berharga, karena memberikan wawasan tentang tantangan yang dihadapi oleh komunitas pertanian setiap hari. Pengalaman semacam ini sangat penting untuk mengembangkan softskill yang diperlukan bagi para profesional pertanian di masa depan.
Melalui program MBKB ini, mahasiswa berhasil menjembatani teori akademis dengan aplikasi praktis di dunia kerja sekaligus mengasah softskill kepemimpinan dan kewirausahaan di sektor agribisnis. Langkah strategis ini juga selaras dengan komitmen pencapaian target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui ketahanan pangan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Dengan membenamkan diri dalam konteks pertanian lokal, mahasiswa tidak hanya meningkatkan pembelajaran mereka sendiri tetapi juga berkontribusi pada pemberdayaan petani lokal melalui pengetahuan dan praktik yang dibagikan.
Lebih jauh lagi, program ini menstimulasi pemikiran inovatif dan keterampilan pemecahan masalah bagi mahasiswa. Saat mereka belajar tentang teknik pertanian berkelanjutan, mahasiswa terinspirasi untuk mengeksplorasi peluang kewirausahaan di sektor pertanian, yang dapat mengarah pada peningkatan produktivitas pertanian dan pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Sebagai kesimpulan, program MBKB di APPOLI merupakan langkah signifikan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademis dan aplikasi praktis dalam pertanian. Dengan membekali mahasiswa dengan keterampilan dan pengalaman yang diperlukan untuk menghadapi tantangan pertanian kontemporer, inisiatif ini berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan dan aman pangan bagi Indonesia.
Penulis: Tim Media Departemen Tanah
Editor: Riska Ayu Purnamasari