Mahasiswa magang dari Departemen Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada melaksanakan kunjungan lapangan ke Pabrik Gondorukem dan Terpentin (PGT) Sapuran yang berada di bawah pengelolaan Perum Perhutani, berlokasi di Sapuran.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026, dengan pendampingan dari Kepala Sub Seksi (KSS) Pengembangan Bisnis serta KSS Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan (K3L), serta diikuti dengan audiensi bersama Kepala PGT Sapuran. Kunjungan ini merupakan bagian dari pembelajaran lapangan dalam rangkaian program magang yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap sistem industri kehutanan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi perkenalan serta pemaparan mengenai struktur organisasi dan sistem operasional di PGT Sapuran. Selanjutnya, mahasiswa memperoleh penjelasan komprehensif terkait alur pengolahan getah pinus, mulai dari proses pengangkutan bahan baku, pemisahan, penyulingan, pengendapan, hingga tahap pengujian kualitas produk gondorukem. Selain itu, mahasiswa juga dikenalkan pada produk turunan lainnya, seperti terpentin, serta pemanfaatan bahan sampingan berupa serasah sebagai bagian dari efisiensi produksi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses hilirisasi hasil hutan non-kayu, khususnya dalam pengolahan getah pinus menjadi produk bernilai tambah. Pengalaman ini tidak hanya memperkuat kompetensi teknis mahasiswa, tetapi juga memberikan wawasan mengenai pentingnya integrasi antara aspek industri, lingkungan, dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya hutan.
Secara lebih luas, kegiatan ini berkontribusi terhadap pencapaian beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:
SDG 4: Pendidikan Berkualitas – melalui pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang meningkatkan kapasitas dan kompetensi mahasiswa di bidang kehutanan dan pengelolaan sumber daya alam.
SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi – melalui pemahaman terhadap industri hasil hutan yang berpotensi menciptakan nilai tambah ekonomi dan membuka peluang kerja di sektor kehutanan.
SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur – melalui pengenalan proses industri pengolahan getah pinus berbasis teknologi dan sistem produksi yang terstruktur.
SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab – melalui praktik pemanfaatan sumber daya hutan secara efisien, termasuk pengolahan produk utama dan sampingan.
SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim – melalui peningkatan kesadaran akan peran hutan dan produk berbasis biomassa dalam mendukung mitigasi perubahan iklim.
SDG 15: Ekosistem Daratan – melalui pemahaman pengelolaan hutan produksi yang tetap memperhatikan aspek keberlanjutan ekosistem darat.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri kehutanan memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan dan praktik lapangan.
Penulis: Rina Damayanti
Editor: Imas Masithoh Devangsari