Pada Selasa, 25 November 2025 pukul 09.00 WIB, Departemen Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “From Knowledge to Business”. Kegiatan ini menghadirkan Brian Rhodes Thorrington, Honorary Consul of the Republic of Indonesia in Auckland, New Zealand, sebagai pembicara. Acara dilaksanakan di Auditorium MMA Fakultas Pertanian UGM dan diikuti oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Tanah dari jenjang sarjana (S1), master (S2), dan juga doktor (S3).
Materi kuliah umum tersebut menekankan bagaimana pengetahuan dan teknologi dapat diimplementasikan menjadi inovasi yang memberi manfaat nyata sekaligus bernilai ekonomi. Salah satu contoh yang disampaikan adalah pemanfaatan forage chicory sebagai pakan ternak yang diperkaya selenium. Pendekatan ini memungkinkan kandungan selenium pada tanaman terserap oleh ternak dan selanjutnya masuk ke dalam rantai pangan manusia melalui konsumsi daging atau produk hewani lain. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas nutrisi pakan, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat kesehatan bagi konsumen akhir.
Pembahasan juga menyoroti isu stunting yang masih menjadi tantangan serius, terutama akibat kekurangan zat gizi mikro seperti selenium. Salah satu pendekatan yang ditawarkan untuk mengatasinya adalah biofortifikasi, yaitu peningkatan kandungan gizi pada tanaman pangan secara langsung, misalnya pada jagung dan padi. Strategi ini dinilai lebih efektif dan berkelanjutan karena gizi yang ditingkatkan dalam tanaman akan tersedia secara alami dalam makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat luas setiap hari.
Topik yang yang dibahas juga memiliki keterkaitan erat dengan beberapa agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Upaya peningkatan kualitas gizi melalui biofortifikasi dan fortifikasi pakan ternak mendukung pencapaian SDG 2: Zero Hunger, khususnya pada target peningkatan ketahanan pangan dan gizi. Langkah ini sekaligus berkontribusi terhadap SDG 3: Good Health and Well-Being dengan membantu pencegahan stunting dan kekurangan mikronutrien dalam masyarakat.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dan inovasi pada sektor pangan yang ramah lingkungan berkaitan dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production. Lebih jauh, transformasi pengetahuan menjadi produk inovatif bernilai ekonomi membuka peluang pengembangan usaha dan lapangan kerja, yang mendukung SDG 8: Decent Work and Economic Growth, serta mendorong penguatan SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure melalui penerapan riset dalam industri pangan dan peternakan.
Penyelenggaraan kuliah umum ini diharapkan dapat memperkuat wawasan mahasiswa mengenai pentingnya riset ilmiah dalam mendorong inovasi di sektor pertanian serta pengembangan model bisnis berbasis ilmu pengetahuan. Melalui pemahaman tersebut, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan global.
Penulis: Rina Damayanti
Editor: Firdausi Nur Azizah