Bantul, 12 Juli 2026 – Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Rejeki yang berlokasi di Dusun Bergan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini tengah memetakan langkah baru menuju kemandirian pangan setelah mengikuti kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Kelompok tani yang sah di bawah SK Dukuh No. 01 Tahun 2025 untuk periode kepengurusan 2022–2027 ini, sebelumnya mengeluhkan kendala serius berupa gejala stres tanaman seperti daun menguning, klorosis dari pucuk atas, pertumbuhan kerdil, hingga pembusukan akar akibat komparasi tanah yang tinggi. Akibat kegagalan tanam langsung di bedengan tersebut, para anggota KWT sempat beralih menanam menggunakan pot galon bekas guna mempertahankan komoditas utama mereka seperti cabai, pare, pisang, pepaya, kenikir, dan labu.
Merespons permasalahan tersebut, Riska Ayu Purnamasari, Dosen Program Studi Ilmu Tanah Universitas Gadjah Mada (UGM), bersama dengan Tim Pengabdian termasuk Dosen dan Mahasiswa dari Departemen Mikrobiologi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM, hadir sebagai narasumber untuk membantu mengidentifikasi karakteristik degradasi lahan hortikultura yang selama ini menghambat produktivitas warga. Berdasarkan hasil identifikasi ilmiah di lapangan, ia memetakan empat faktor utama pembatas kesuburan tanah di Dusun Bergan:
- Struktur Padat Eks-Tapak Bangunan: Kondisi tanah yang keras dan padat karena lahan pertanian berada di atas bekas tapak bangunan, sehingga meminimalkan rongga udara, mencekik akar, dan menyulitkan penyerapan hara.
- Kandungan Kapur Tinggi pada Tanah dan Air: Tingginya kadar kapur (kalsium karbonat) yang membuat pH tanah cenderung alkalis (basa), sehingga mengunci unsur hara mikro penting seperti besi dan fosfor. Penggunaan sumber air berkapur secara terus-menerus juga memicu pembentukan kerak keras di permukaan tanah.
- Ketergantungan Pupuk Kimia: Pola penanaman intensif tanpa jeda yang menguras hara alami N,P,K, berujung pada peningkatan dosis pupuk kimia (NPK) secara berlebih yang justru merusak struktur fisik tanah.
- Drainase Buruk: Letak geografis lahan di dataran rendah yang berdekatan dengan aliran sungai, menjadikannya rentan tergenang saat musim hujan dan memicu pembusukan akar.
Dr. Riska menegaskan bahwa temuan identifikasi ini tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Guna mewujudkan pemulihan lahan secara masif dan berkelanjutan, diperlukan kolaborasi erat dari berbagai pihak (multi-pihak), mulai dari dukungan kebijakan pemerintah daerah, pendanaan CSR sektor swasta, pendampingan lanjutan dari akademisi, hingga komitmen swadaya masyarakat lokal.
Kegiatan pemetaan dan identifikasi lahan ini menjadi pondasi penting dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Desa yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Penulis: Riska Ayu Purnamasari
Editor: Margi Asih Maimunah